BAB
I PENGARANG TELAH MATI
Di bab ini menceritakan seorang
tokoh yang di tulis oleh pengarangnya yang meninggal dunia seminggu yang lalu
sedangkan ceritanya belum diselesaikan ,namun yang menjadi tokoh tak menerima
semuanya tokoh menganggap si penulis mempunyai kesalahan besar yakni,tak
menyelesaikan ceritanya itu.Tokoh kesal karena ia hanya ada dalam beberapa file di komputernya.Begitu
berbagai-bagainya sehingga tokoh benar-benar dia tidak tau dia mau di bawa
kemana dan dia menokohi watak apa.Tokoh menganggap bahwa si penulis seenaknya
saja member nama si tokoh dengan nama soekram yang konon berasal dari bahasa
asing yang artinya –ah.Sebelum semua file tentang dirinya kena virus tokoh
berharap untuk seseorang membujuk istri penulis untuk bisa mendapatkan file-file itu,membacanya,dan
menerka-nerka arah nasib tokoh selanjutnya.
Soekram adalah seorang sarjana
cerdas.Ia adalah seorang lulusan Universitas Amerika.Di sana Soekram bertemu
dengan Ida,perempuan muda anak seorang usahawan yang mampu menuntaskan
kuliahnya dengan biaya sendiri.Di balik itu semua,ternyata Soekram sudah
mempunyai istri yang bernama minuk.Dia adalah istri yang pengertian dan tak
banyak bicara.
Suatu hari soekram menelpon Ida dan
mereka bercakap-cakap.Di tengah-tengah percakapannya Ida menanyakan tentang
keadaan minuk istri Soekram.
“istrimu
bagaimana?” Tanya Ida
“Bagaimana-bagaimana?”
jawabnya
“mungkin
aku tak betah disini,aku ingin ikut kamu tadi waktu naik taksi dari Airport apartemen.Aku ingin nangis kram.Balas Ida
Soekram bingung apayang pernah ia katakana kepada Ida dulu.Soekram tambah tidak
tau kemana arah segala yang diucapkannya itu.
Ketika Soekram pergi ke kaca
pembatas ruang baggage claim,ia seperti melihat ada yang berkelebat.Dia
berpikir bahwa Ida lah yang menunggunya,tetapi itubukan Ida melainkan istri dan
anaknya.Lewat dua tahun Soekram bertemu kagi dengan istrinya namun anaknya tak
mengenalinya.”Bagaimana anaknya mengenalnya anaknya kan baru lahir satu tahun
yang laluketika soekram bertugas”kata salah seorang rekannya.
Selain Ida ada juga Rosa,mahasiswa
di fakultasnya yang akif dalam berbagai kegiatan kampus.Rosa sering menjemput
Soekram.Sudah dua kali Rosa menjemput Soekram,yang sebenarnya ia tak berminat
untuk di jemput,tetapi banyak anak yang mengatakan Soekram mempunyai banyak fans di kampusnya
itu.Jadi ia ikut saja karna takut menyakiti hati fansnya itu.
Suatu ketika Soekram mendapat
kiriman surat,Soekram hanya diam.Soekram membaca surat itu dua kali
lalumenyobeknya menjadi potongan-potongan kecil danmelemparkannya ke tempat
sampah plastik.Dia masih tak percaya surat itu dari Ida,tetapi tanda tangannya
menunjukan bahwa itu dari Ida.Soekram semakin bingung dan bimbang.
“Dimana gerangan mawar indah
itu”gumam Soekram mawar yang di maksudnya itu adalah Rosa karena Rosa janji
akan makan siang bersamanya.Ituberarti ia harus mencarinya.
Setelah beberapa hari kemudian
teringat lagi dengan Ida ia pernah ingin mengirim surat untuk Ida,tetapi ia tak
pernah menuliskannya.
BAB
II PENGARANG BELUM MATI
Teman pengarang mencari file-file
cerita Soekram yang belum selesai ditulis tersebut dan membacanya. Masuk ke
cerita selanjutnya, setelah diterbitkan ternyata pengarang belum
mati,editor tersebut bertemu si
pengarang (yang kabarnya telah mati) di sebuah warung kopi. Ia sangat kaget
tentang halite karena ebelumnya ia mendapat kabar bahwa pengarang telah mati.
Semakin rumit jalan cintanya Soekram
sekarang ia dekat dengan Maria.Semakin berat gejolak hidup soekram.selain
tentang percintaan ia juga sayang kepada neneknya yang sangat perhatian
kepadanya.Neneknya selalu menanyakan apakah ia sudah makan,sembahyang dan lain
hal yang bersangkutan dengannya.Selain itu juga ia pernah berurusan dengan kaucen
dan ia tak mau lagi ada hubungan dengan kaucen itu lagiSoekram tidak mau lagi
melanjutkannya.di bab ini ada katayang selalu disebutkan yaitu” jangan kunyah
pasir itu soekram”.Entahlah makna apa yang terkandung dalam kata itu
BAB III PENGARANG TAK PERNAH MATI
Soekram melompat-lompat dari
kemungkinan-kemungkinan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ia merombak habis
habisan cerita Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli. Ia menghajar dengan sadis
kebengisan Datuk Maringgih dan membuatnya sebagai pahlawan di kampungnya, yang
dikagumi banyak orang dan juga Nurbaya.Banyak yang di sampaikan di trilogi ini
yang membuat kisah-kisahnya dengan datuk maringgih. Ia memutar balik cerita itu
hingga Nurbaya tergila-gila dengan Datuk dan Datuk yang merasa dicintai wanita
muda dan dengan idealisme nya menolak cinta itu, namun pada akhirnya goyah juga
idealismenya. Pada suatu ketika Soekram bertemu Marah, Dialah Marah Rusli sang
pengarang cerita Siti Nurbaya itu. dan siti nurbaya.
“Kau menciptakan mereka lagi sekarang, tanpa meminta izin dariku!”
Nah!
“Kau selama ini berkelit ke sana kemari dengan maksud yang tidak jelas. Dan sekarang kau melakukan sesuatu yang persis sama dengan yang telah kutuduhkan pada pengarang itu.”
Ya, tapi pengarang itu telah mati meninggalkanku dan kawan-kawan sehingga tidak jelas nasibnya. Dan malah kemudian membuat cerita baru yang sama sekali tidak menyebabkan nasibku juntrung.
“Saya tidak menciptakan Nurbaya. Saya adalah rekan senasibnya.”
“Pikiranmu kacau, Kram. Aku tidak mau terlibat dalam kekacauan itu, sama sekali. ”
Di bab ini kata itulah yang terlontarkan lagi oleh soekram yang tak menerima baha pengarangnya telah meninggalkannya.
Hal hal aneh dan tidak jelas banyak terjadi
dalam kisah kisah dalam trilogi ini.Saya masih belum mengerti apa makna “bukit
bukit pasir yang bergeser dalam hatinya” dalam cerita Pengarang Telah Mati.
Hal serupa juga muncul dalam Pengarang Belum Mati “Jangan Makan
Pasir Di Padang Pasir ” atau “Jangan Kunyah Pasir Itu Soekram, Jangan! ” kalimat
itu membingungkan.Sebenarnya novel TRILOGI SOEKRAM ini kata-katanya sulit dan sedikit yang bisa
dimengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar