Sabtu, 12 November 2016

RINGKASAN NOVEL







TRILOGI SOEKRAM



BAB I  PENGARANG TELAH MATI

            Di bab ini menceritakan seorang tokoh yang di tulis oleh pengarangnya yang meninggal dunia seminggu yang lalu sedangkan ceritanya belum diselesaikan ,namun yang menjadi tokoh tak menerima semuanya tokoh menganggap si penulis mempunyai kesalahan besar yakni,tak menyelesaikan ceritanya itu.Tokoh kesal karena ia hanya ada dalam beberapa file di komputernya.Begitu berbagai-bagainya sehingga tokoh benar-benar dia tidak tau dia mau di bawa kemana dan dia menokohi watak apa.Tokoh menganggap bahwa si penulis seenaknya saja member nama si tokoh dengan nama soekram yang konon berasal dari bahasa asing yang artinya –ah.Sebelum semua file tentang dirinya kena virus tokoh berharap untuk seseorang membujuk istri penulis untuk bisa mendapatkan file-file itu,membacanya,dan menerka-nerka arah nasib tokoh selanjutnya.

            Soekram adalah seorang sarjana cerdas.Ia adalah seorang lulusan Universitas Amerika.Di sana Soekram bertemu dengan Ida,perempuan muda anak seorang usahawan yang mampu menuntaskan kuliahnya dengan biaya sendiri.Di balik itu semua,ternyata Soekram sudah mempunyai istri yang bernama minuk.Dia adalah istri yang pengertian dan tak banyak bicara.

            Suatu hari soekram menelpon Ida dan mereka bercakap-cakap.Di tengah-tengah percakapannya Ida menanyakan tentang keadaan minuk istri Soekram.

“istrimu bagaimana?” Tanya Ida

“Bagaimana-bagaimana?” jawabnya

“mungkin aku tak betah disini,aku ingin ikut kamu tadi waktu naik taksi dari Airport  apartemen.Aku ingin nangis kram.Balas Ida Soekram bingung apayang pernah ia katakana kepada Ida dulu.Soekram tambah tidak tau kemana arah segala yang diucapkannya itu.

            Ketika Soekram pergi ke kaca pembatas ruang baggage claim,ia seperti melihat ada yang berkelebat.Dia berpikir bahwa Ida lah yang menunggunya,tetapi itubukan Ida melainkan istri dan anaknya.Lewat dua tahun Soekram bertemu kagi dengan istrinya namun anaknya tak mengenalinya.”Bagaimana anaknya mengenalnya anaknya kan baru lahir satu tahun yang laluketika soekram bertugas”kata salah seorang rekannya.

            Selain Ida ada juga Rosa,mahasiswa di fakultasnya yang akif dalam berbagai kegiatan kampus.Rosa sering menjemput Soekram.Sudah dua kali Rosa menjemput Soekram,yang sebenarnya ia tak berminat untuk di jemput,tetapi banyak anak yang mengatakan  Soekram mempunyai banyak fans di kampusnya itu.Jadi ia ikut saja karna takut menyakiti hati fansnya itu.

            Suatu ketika Soekram mendapat kiriman surat,Soekram hanya diam.Soekram membaca surat itu dua kali lalumenyobeknya menjadi potongan-potongan kecil danmelemparkannya ke tempat sampah plastik.Dia masih tak percaya surat itu dari Ida,tetapi tanda tangannya menunjukan bahwa itu dari Ida.Soekram semakin bingung dan bimbang.

            “Dimana gerangan mawar indah itu”gumam Soekram mawar yang di maksudnya itu adalah Rosa karena Rosa janji akan makan siang bersamanya.Ituberarti ia harus mencarinya.

            Setelah beberapa hari kemudian teringat lagi dengan Ida ia pernah ingin mengirim surat untuk Ida,tetapi ia tak pernah menuliskannya.



BAB II PENGARANG BELUM MATI

Teman pengarang mencari file-file cerita Soekram yang belum selesai ditulis tersebut dan membacanya. Masuk ke cerita selanjutnya, setelah diterbitkan ternyata pengarang belum mati,editor  tersebut bertemu si pengarang (yang kabarnya telah mati) di sebuah warung kopi. Ia sangat kaget tentang halite karena ebelumnya ia mendapat kabar bahwa pengarang telah mati.       

Semakin rumit jalan cintanya Soekram sekarang ia dekat dengan Maria.Semakin berat gejolak hidup soekram.selain tentang percintaan ia juga sayang kepada neneknya yang sangat perhatian kepadanya.Neneknya selalu menanyakan apakah ia sudah makan,sembahyang dan lain hal yang bersangkutan dengannya.Selain itu juga ia pernah berurusan dengan kaucen dan ia tak mau lagi ada hubungan dengan kaucen itu lagiSoekram tidak mau lagi melanjutkannya.di bab ini ada katayang selalu disebutkan yaitu” jangan kunyah pasir itu soekram”.Entahlah makna apa yang terkandung dalam kata itu



BAB III PENGARANG TAK PERNAH MATI

 Soekram melompat-lompat dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ia merombak habis habisan cerita Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli. Ia menghajar dengan sadis kebengisan Datuk Maringgih dan membuatnya sebagai pahlawan di kampungnya, yang dikagumi banyak orang dan juga Nurbaya.Banyak yang di sampaikan di trilogi ini yang membuat kisah-kisahnya dengan datuk maringgih. Ia memutar balik cerita itu hingga Nurbaya tergila-gila dengan Datuk dan Datuk yang merasa dicintai wanita muda dan dengan idealisme nya menolak cinta itu, namun pada akhirnya goyah juga idealismenya. Pada suatu ketika Soekram bertemu Marah, Dialah Marah Rusli sang pengarang cerita Siti Nurbaya itu. dan siti nurbaya.

“Kau menciptakan mereka lagi sekarang, tanpa meminta izin dariku!”

Nah!

“Kau selama ini berkelit ke sana kemari dengan maksud yang tidak jelas. Dan sekarang kau melakukan sesuatu yang persis sama dengan yang telah kutuduhkan pada pengarang itu.”

Ya, tapi pengarang itu telah mati meninggalkanku dan kawan-kawan sehingga tidak jelas nasibnya. Dan malah kemudian membuat cerita baru yang sama sekali tidak menyebabkan nasibku juntrung.

“Saya tidak menciptakan Nurbaya. Saya adalah rekan senasibnya.”

“Pikiranmu kacau, Kram. Aku tidak mau terlibat dalam kekacauan itu, sama sekali. ”

Di bab ini kata itulah yang terlontarkan lagi oleh soekram yang tak menerima baha pengarangnya telah meninggalkannya.

  Hal hal aneh dan tidak jelas banyak terjadi dalam kisah kisah dalam trilogi ini.Saya masih belum mengerti apa makna “bukit bukit pasir yang bergeser dalam hatinya” dalam cerita Pengarang Telah Mati. Hal serupa juga muncul dalam Pengarang Belum Mati “Jangan Makan Pasir Di Padang Pasir ” atau “Jangan Kunyah Pasir Itu Soekram, Jangan! ” kalimat itu membingungkan.Sebenarnya novel TRILOGI SOEKRAM  ini kata-katanya sulit dan sedikit yang bisa dimengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar